Mila Wardani: Keprihatinan Saja Tidak Cukup, Harus Ada Action
03 Maret 2009 13:31:28 oleh eet
Kasus Aborsi Kian Memprihatinkan
"Sekarang ini kita melihat adanya orientasi pendidikan hanya sebatas penguasaan ilmu saja tetapi tidak mengarahkan anak kepada pendidikan budi pekerti," (Dra. Mila Wardani, Anggota DPRD Kota Samarinda dari FPKS)
________________________________________
Samarinda, Tingginya angka aborsi ilegal di Indonesia, sangat berkaitan dengan pola atau perilaku hidup kaum remaja dengan gaya seks bebasnya. Barang tentu mengundang keprihatinan banyak pihak. Namun ungkapan keprihatinan tidaklah cukup, harus disertai dengan action. Perlu dukungan semua pihak untuk memberikan pemahaman dan perlindungan, utamanya kepada kaum ramaja dari bahaya perilaku seks bebas sebagai awal dari terjadinya aborsi.
Pengamat Sosial sekaligus Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Dra. Mila Wardani mengatakan bahwa, tingginya angka oborsi ini sangat berkaitan dengan pola perilaku remaja kita yang memang sudah cukup mengkhawatiran.
"Bagaimana tidak mengkhawatirkan, seorang peneliti menyampaikan via media bahwa hampir 90% di sebuah perguruan tertinggi pertama di kota pelajar sudah mengenal yang namanya seks bebas," ungkap Mila Wardani.
Menurut Mila Wardani, perilaku dan gaya hidup seks bebas ini tentunya tercipta akibat dari minimnya pendidikan seks utamanya oleh keluarga sejak dini dan besarnya peran media.
Mila Wardani menambahkan, tentunya ini saling terkait dengan dunia pendidikan dan media massa. Diperlukan kerja keras orang tua dalam membimbing anak-anaknya agar tidak berperilaku hidup seks bebas serta peran pemerintah yang lebih maksimal lagi.
"Dan kalau saya melihat, kurang adanya keinginan dari semuanya, kecuali hanya sekedar muncul keprihatinan. Karena keprihatinan saja tidak cukup harus disertai dengan actionnya juga," ucap Mila Wardani.
Diilustrasikan oleh Mila Wardani, misalnya saja tentang adanya kejadian di sebuah keluarga berupa hubungan incest (hubungan sedarah). Semisal ayah, kakak, om dan keluarga dekat lainnya yang semestinya menjadi pelindung tapi malah pemakan keluarga sendiri.
Seharusnya keluarga lebih banyak berperan dalam memberikan pendidikan, bimbingan seks dan perlindungan sejak dini. Misalnya dengan melakukan pemisahan tempat tidur antara anak laki-laki dan perempuan, mengajari anak perempuan tetep berpakain ketika tidur, hingga mendiskusikan kepada mereka jika ada kasus-kasus demikaian agar mereka bisa menjaga diri. "Inilah sebenarnya pendidikan seks sejak dini bukan ngajari mereka bicara vulgar, cara berpakaian secara tidak sopan dan lain sebagainya sejak dini," tandas Mila Wardani.
Selain itu lembaga pendidkan juga harus mengontrol anak didiknya. "Sekarang ini kita melihat adanya orientasi pendidikan hanya sebatas penguasaan ilmu saja tetapi tidak mengarahkan anak kepada pendidikan budi pekerti," lanjut Mila Wardani. Mila Wardani bercerita, "Satu hari ada cerita, anak saya sedih ketika gurunya tidak mengijinkanya shalat karena waktu shalat berbarengan dengan jam pelajaran. Sungguh ini suatu disiplin yang keliru. Dan yang paling mengejutkan lagi, di bak sampah sekolahnya di temukan tesfek (tes kehamilan) dengan hasil yang positif! Ada apa dengan lembaga pendidikan kita ketika satu sisi maju dalam hal pelajaran tapi timpang dengan nilai-nilai moral." Kemudian, banyak media massa bukan menjadi informan positif tetapi menjadi racun bagi generasi kita. Betapa mudahnya anak-anak kita mengakses "pelajaran" seks tanpa halangan lewat film di tv, internet atau hand phone. Lebih lanjut Mila Wardani menjelaskan, ketiga lembaga inilah yaitu Keluarga, sekolah dan pemerintah yang harusnya bekerja keras, saling mendukung dan bekerja sama. Sebab kalau orang tua saja yang menanamkan nilai-nilai moral tanpa di dukung oleh dunia pendidikan pasti juga akan sangat berat.
"Mestinya jika sudah ada Undang-undang atau Peraturan Daerah-nya, ini tinggal sistem pelaksanaanya saja yang harus dibenahi. Sayangnya kita tidak selalu mempersiapkan sistem ketika sudah ada peraturan dibuat sehingga kadang-kadang terkesan sia-sia belaka. Padahal payung hukumnya sudah ada tapi implementasinya yang justru tidak jalan," ujar Mila Wardani.
Mila Wardani berpendapat, sebenarnya ada usaha yang harus di lakukan walaupun kelihatanya kecil. Yaitu bagaimana peran PKK, Disdik, MUI dan berbagai lembaga terkait lainnya bisa melakukan sosialisasi ke simpul-simpul massa terkait dengan mengungkapkan berbagai kasus dan cara penyelesainnya. "Saya pikir tidak hanya masalah aborsi saja, bisa juga tentang narkoba yang telah menimpa 1,3 juta penduduk Indonesia dan kian marak saja."
07 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar